Makalah ALT pada sampel makanan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makan adalah kebutuhan pokok manusia. Setiap hari kita
harus makan supaya kita mempunyai energi untuk beraktivitas. Idelnya menurut
teori, manusia perlu makan 3 kali sehari untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Bila
sebelumnya makan berarti harus mengkonsumsi nasi, maka seiring dengan perubahan
gaya hidup, manusia tidak hanya
mengkonsumsi nasi selama makan. Nasi sebagai sumber karbohidrat yang mensuplai
prosentase terbesar untuk energi bisa digantikan dengan sumber karbohidrat yang
lain. Seperti kentang, roti gandum, cereal, dll
Upaya pengamanan makanan dan minuman pada dasarnya
meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan,
peralatan pengolahan makakan dan proses pengolahannya. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya keracunan makanan, antara lain adalah higienis
perorangan yang buruk, cara penanganan makanan yang tidak sehat dan
perlengkapan pengolahan makanan yang tidak bersih.
Berbagai mikroba patogen seringkali ditularkan melalui
air yang tercemar sehingga menimbulkan penyakit bawaan manusia maupun hewan.Bahan makanan terdiri dari protein,
karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Bahan makanan merupakan medium
pertumbuhan yang baik bagi berbagai macam mikroorganisme.
Mikroorganisme
dapat membusukkan protein, memfermentasikan karbohidrat dan menjadikan lemak
dan minyak berbau tengik. Meskipun banyak mikroorganisme tidak berbahaya bagi
manusia, beberapa mikroorganisme pencemar dapat mengakibatkan kerusakan, dan
yang lain menimbulkan penyakit atau menghasilkan racun yang menyebabkan
peracunan makanan.
Oleh karena
itu untuk mengetahui bahwa bahan baku dan bahan tambahan tidak mengalami
perubahan sifat serta bebas dari kontaminasi mikroba, maka diperlukan uji
mikrobiologis, yang meliputi pengujian Angka Lempeng Total bakteri dan uji
cemaran bakteri/ kapang.
Analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan pangan
penting dilakukan untuk mengetahui mutu bahan pangan dan menghitung proses
pengawetan yang akan diterapkan pada bahan pangan tersebut. Ada beberapa cara
yang dapat digunakan untuk menghitung atau mengukur jumlah jasad renik dalam
suatu suspensi, salah satunya adalah pemeriksaan adanya bakteri Coliform pada
makanan dan minuman dengan metode MPN
B. Maksud
dan Tujuan
1.
Maksud
Melakukan teknik pengenceran dan teknik perhitungan dengan
metode TPC (Total Plate Count) atau ALT (Angka Lempeng Total).
2.
Tujuan
a)
Agar dapat mengetahui tingkat kontaminasi
makanan yang telah diolah dan siap untuk dikonsumsi atau disantap;
b)
Mengetahui populasi kuman atau jumlah bakteri
dalam suatu bahan, misalnya air, makanan dan minuman;
c)
Untuk mengetahui teknik dilution (pengenceran).
d) Untuk
mengetahui teknik perhitungan dengan metode TPC (Total Plate Count) atau ALT
(Angka Lempeng Total).
C.
Waktu
dan Pelaksanaan
Selasa, 25 Februari 2019 dilakukan
Sterilisasi
Rabu, 26 Februari 2019 dilakukan
dengan metode uang
Jumat, 27 Februari 2019 menghitung Koloni
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Total
account yaitu kalau perhitungan jumlah tidak berdasarkan
pada jenis bakteri, tetapi secara kasar terhadap golongan atau kelompok besar
mikrooranisme umum seperti bakteri, fungi mikroalge ataupun terhadap kelompok
bakteri tertentu. Total count bacteria misalnya
ditentukanberdasarkan penamaan bahan dalam jumlah dan pengenceran
tertentu kedalam media umum untuk bacteria. Setelah melalui masa inkubasi pada
temperature kamar selama waktu maksimal 4 × 24 jam, perhitungan koloni
dilakukan. Dianggap bahwa tiap koloni berasal dari sebuah sel, maka jumlah koloni
dapat diperhitungkan sebaga jumlah sel mewakili dan terdapat didalam bahan yang
dianalisis. Juga terdapat total count fungi dilakukan metoda yang sama, kecuali
temperature inkubasi 28 1˚C. didalam pelaksaan agar selam pertumbuhan tidak
diganggu oleh koloni bakteri maka kepada permukaan media sebeumya diberi bahan
yang akan dianalisis, ditambah terlebih dahulu larutan asam laktat 3%.
Terhadap
microalgae, media yang digunakan harus bersifat semi solid atau cair, yaitu
dengan penambahan tepung agar 50% dari yang diperlukan. Karena kalau penggunaan
tepung agar sesuai dengan bacteria ataupun fungi, pertumbuhan mikroalge akan
terlambat atau terhambat sama sekali. Berbeda dengan biakan bacteri ataupun
fungi, maka biakan mikroalge harus ditempatkan pada tempat yang terang atau
dikenai cahaya matahari, selama 5-15 hari. Jenis media yang digunakan untuk
perhitungan total account kelompok lain pada dasarnya berbentuk media selektiff
atau pengaya. Karena sifat selektif dari media, pada akhirnya kalaupun ada
bacteria yang tidak diharapkan dapat tumbuh dan berkembang didalamnya, selain
memerlukan waktu yang cukup lama (diatas 10 × 24 jam) juga koloni yang
terbentuk tetapi tidak dapat membesar dan mudah hilang dari pengamatan dengan
mengunakan mata biasa.
Total
count terhadap bakteri pathogen, khususya untuk penyebab sakit perut, seperti
tifus, paratifus, kolera disentri, dan sebagainya yang disebabkan oleh salmonella,
shigela dan vibrio, juga memerlukan media
pengaya dan media selektif. Total count terhadap bacteri penghasil racun,
khususnya yang menyebar melalui air dan mengenai bahan makanan dan disebabkan
oleh bacteri aerobic (pseudomonas, Staphylococus) dan aerob (Costridium)
serta total count dan identifikasi jenis-jenis fungi penghasil mikotoksin
khususnya yang termasuk kelompok Aspergillus, penicililium, dan
fusarium, juga sama seperti untuk golongan phatogen.
Prinsip metode ALT ini adalah apabila ada satu sel mikroorganisme yang
masih hidup ditumbuhkan pada medium yang sesuai, maka sel tersebut akan
berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung
dengan mata pada media yang digunakan dan setelah dilakukan inkubasi pada suhu
dan waktu tertentu.
a. Pengenceran
Bahan yang
diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel mikroba per mil per gram atau per
cm, memerlukkan perlakuan pengenceran sebelum ditumbuhkan pada medium agar
didalam cawan petri, sehingga setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan
tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaik adalah
diantara 30 dan 300.
Pengambilan
contoh dilakukan secara aseptis dan pada setiap pengenceran dilakukann
pengocokan kira-kira sebanyak 25 kali untuk memisahkan sel-sel mikroba yang
bergabung menjadi satu. Pengenceran secara desimal memudahkan dalam perhitungan
jumlah koloni, sedangkan pengenceran yang bukan secara decimal, misalnya 1 : 5,
1 : 25, dan seterusnya jarang dilakukan karena tidak praktis dalam
perhituntannya. Untuk mengetahua jumlah mikroba pada permukaan luar bahan,
contohnya dapat dilakukan dengan metode sebar.
Koloni
yang dipilih untuk dihitung menggunakan cara metode hitungan cawan memiliki
syarat khusus berdasarkan statistik untuk memperkecil kesalahan dalam
perhitungan. Perhitungan mengacu kepada standar atau peraturan yang telah
ditentukan. Syarat-syaratnya sebagai berikut :
1. Pilih cawan yang ditumbuhi koloni
dengan jumlah 30-300 koloni. > 300 = TNTC (Too Numerous To Count)
atau TBUD (Terlalu Banyak Untuk Dihitung). < 30 = TFTC (Too Few To Count).
2. Jumlah koloni yang dilaporkan
terdiri dari 2 digit yaitu angka satuan dan angka sepersepuluh yang dikalikan
dengan kelipatan 10 (eksponensial)
3. Bila diperoleh perhitungan < 30
dari semua pengenceran, maka hanya dari pengenceran terendah yang dilaporkan.
4. Bila diperoleh perhitungan > 300
dari semua pengenceran, maka laporannya adalah 300 dikali 1/ faktor pengenceran
dengan menuliskan hasil yang sebenarnya dalam tanda kurung. (hasil yang
sebenarnya diperoleh dari pengenceran tertinggi). berurutan dengan jumlah
koloni 30-300 dan hasil bagi dari jumlah koloni pengenceran tertinggi dan
terendah ≤ 2, maka jumlah yang dilaporkan adalah nilai rata-rata. Jika hasil
bagi dari pengenceran tertinggi dan terendah > 2 maka jumlah yang dilaporkan
adalah dari cawan dengan pengenceran terendah.
Sebagai salah
satu metode perhitungan metode hitungan cawan ini memiliki kelebihan dan
kekurangan (Fardiaz,1992).
Ø Kelebihan
dari metode hitungan cawan:
a. masih
hidup yang hidup yang dihitung
b. Beberapa
jenis jasad renik dapat dihitung sekaligus
c. Dapat
digunakan untuk isolasi dan identifikasi jasad renik karena koloni yang
terbentuk mungkin berasal sari suatu jasad renik yang memiliki penamapakan
pertumbuhan spesifik.
Ø Kekurangannya,
yaitu:
a. Hasil
hitungannya tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya, karenabeberapa sel
yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni.
b. Medium
dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda.
c. Jasad
renik yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk
koloni yang kompak dan jelas, tidak menyebar.
Untuk
menentukan jumlah bacteri dapat di lakukun beberapa cara:
1. Penghitungan jumlah bacteri secara
keseluruhan
a. Menghitung
langsung secara mikroskopis
Pada cara ini
dihitung jumlah bacteri dalam satuan isi yang sangat kecil.untuk ini digunakan
kaca objek khusus yang bergaris berbentuk bujur sangkar.jumlah cairan yang
terdapat antara kaca objek dan kaca penutup mempunyai volume tertentu,sehingga
satuan isi yang terdapat dalam satu bujur sangkar juga tertentu.
b. Menghitung
dengan cara kekeruhan
Cara ini
mengggunakan spektofotometer atau nefelometer.Dasar teknik ini adalah banyaknya
cahaya yang diabsorpsi sebanding dengan banyaknya bacteri pada batas tertentu.
2. Menghitung
jumlah bacteri dengan metode kerapatan optik
Jumlah
mikroorganisme dalam suspense dapaat ditentukan dengan kerapatan optic (OD =
OPTIKAL DENSITY). Pengukuran kerapatan optic menggunakan kolorimeter yang
membiaskan cahaya dengan gelombang tertentu.Gelombang cahaya melewati suspensi
biakan dan banyaknya yang di transmisikan setelah melewati suspensi di ukur
jumlah cahaya yang ditransmisikan setelah melewati suspensi biakan berbanding
terbalik dengan jumlah mikroorganisme dan jumlah cahaya yang diabsorpsi. Jumlah
cahaya yang diabsorpsi tergantung pada bentuk dan besar sel. Spektropotometer
dapat mengukur kepekatan sel dalam suspense dalam % T (transmittance) atau OD
(jumlah cahaya yang diabsorpsi dan disebarkan). Dalam mikrobiologi digunakan OD
sebagai satuan hitungan, karena OD sebanding dengan kepekatan sel dalam
suspense biakan.
Uji
Angka Lempeng Total
a. Definisi
Angka Lempeng Total
Angka
lempeng total adalah angka yang menunjukkan jumlah bakteri mesofil dalam
tiap-tiap 1 ml atau 1 gram sampel makanan yang diperiksa. Prinsip dari ALT
adalah menghitung pertumbuhan koloni bakteri aerob mesofil setelah sampel
makanan ditanam pada lempeng media yang sesuai dengan cara tuang kemudian
dieramkan selama 24-48 jam pada suhu 35-37°C (Joko Wibowo Ristanto, 1989).
Metode
kuantitatif digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba yang ada pada suatu
sampel, umumnya dikenal dengan Angka Lempeng Total (ALT). Uji Angka Lempeng
Total (ALT) dan lebih tepatnya ALT aerob mesofil atau anaerob mesofil
menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa koloni yang dapat diamati
secara visual berupa angka dalam koloni(cfu) per ml/g atau koloni/100ml. Cara
yang digunakan antara lain dengan cara tuang, cara tetes dan cara sebar (BPOM,
2008).
Standar plate Count (Angka Lempeng Total) adalah menentukan jumlah
bakteri dalam suatu sampel. Dalam test tersebut diketehui perkembangan
banyaknya bakteri dengan mengatur sampel, di mana total bakteri tergantung atas
formasi bakteri di dalam media tempat tumbuhnya dan masing-masing bakteri yang
dihasilkan akan membentuk koloni yang tunggal (Djide M).
Standart Plate Counts (SPC) adalah cawan yang dipilih dan dihitung
adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30-300, beberapa koloni yang
bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar yang
jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni, dan satu deretan
rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu
koloni (Waluyo 2007).
Plate count agar (PCA) adalah mikrobiologi medium
pertumbuhan umum digunakan untuk menilai atau memonitor
"total" atau layak pertumbuhan bakteri dari sampel. PCA adalah bukan
media selektif. Komposisi agar-agar pelat menghitung dapat bervariasi, tetapi
biasanya mengandung (b/v) yaitu 0,5% pepton, 0,25% ekstrak
ragi, 0,1% glukosa, 1,5% agar-agar, dan pH disesuaikan (Atlas 2004).
b.
Teknik Perhitungan Angka Lempeng
Uji angka lempeng total dapat dilakukan dengan dua
teknik, yaitu teknik cawan tuang (pour plate) dan teknik sebaran (spread
plate). Pada prinsipnya dilakukan pengenceran terhadap sediaan yang
diperiksa kemudian dilakukan penanaman pada media lempeng agar. Jumlah koloni
bakteri yang tumbuh pada lempeng agar dihitung setelah inkubasi pada suhu dan
waktu yang sesuai. Perhitungan dilakukan terhadap petri dengan jumlah koloni
bakteri antara 30-300. Angka lempeng total dinyatakan sebagai jumlah koloni
bakteri hasil perhitungan dikalikan faktor pengenceran.
Jika sel
jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel jasad renik
tersebut akan berkembang biak membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan
dapat dihitung dengan menggunakan mata tanpa mikroskop. Metoda hitungan cawan
merupakan cara yang paling sensitive untuk menentukan jumlah jaasad renik
karena beberapa hal yaitu :
1)
Hanya sel yang masih hidup
yang dapat dihitung.
2)
Beberapa jenis jasad renik
dapat dihitung satu kali.
3)
Dapat digunakan untuk
isolasi dan identitas jasad renik karena koloni yang terbentuk mungkin berasal
dari jasad renik yang menetap menampakkan pertumbuhan yang spesifik.
Mencari tahu standar/ batas ambang/ jumlah
maksimum aman jika sample yang dianalisa memerlukan referensi tersebut.
Berbagai macam uji mokrobiologis dapat dilakukan terhadap bahan pangan,
meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan daya tahan suatu makanan, uji
kualitatif bakteri patogen untuk menenetukan tingkat keamanan dan uji indikator
untuk menentukan tingkat sanitasi makanan tersebut. Pengujian yang dilakukan
terhadap tiap bahan pangan tidak sama tergantung berbagai faktor, seperti
jenis dan komposisi bahan pangan, cara pengepakan dan penyimpanan serta
komsumsinya, kelompok konsumen dan berbagai faktor lainnya (Djide, 2003)
c. Persyaratan Perhitungan Angka Lempeng Total
Adanya jumlah angka lempeng total yang ditemukan pada suatu
sampel dapat dijadikan acuan bahwa sampel tersebut masih layak untuk dikonsumsi
atau tidak. Adapun untuk batas persyaratan perhitungan dari angka lempeng total
adalah :
1) Mikroba yang
dapat dihitung 30-300 koloni
2) <30
koloni, dianggap cemaran
3) >300 koloni, spreader atau tak terhingga sehingga
tak dapat dihitung
4) Jumlah bakteri adalah jumlah koloni x factor
pengenceran
5) Perbandingan jumlah bakteri dari pengenceran
berturut-turut antara pengenceran yang akhir dengan pengenceran yang sebelumnya
6) Jika sama atau kurang dari 2 maka hasilnya
dirata-rata. Jika lebih dari 2 digunakan pengenceran sebelumnya.
d. Keuntungan Dan Kelemahan dari ALT
Keuntungan
dari metode pertumbuhan agar atau metode uji Angka Lempeng Total adalah dapat
mengetahui jumlah mikroba yang dominan. Keuntungan lainnya dapat diketahui
adanya mikroba jenis lain yang terdapat dalam contoh.
Adapun
kelemahan dari metode ini adalah :
1) Kemungkinan
terjadinya koloni yang berasal lebih dari satu sel mikroba, seperti pada
mikroba yang berpasangan, rantai atau kelompok sel.
2) Kemungkinan
ini akan memperkecil jumlah sel mikroba yang sebenarnya. Kemungkinan adanya
jenis mikroba yang tidak dapat tumbuh karena penggunaan jenis media agar, suhu,
pH, atau kandungan oksigen selama masa inkubasi.
3) Kemungkinan
ada jenis mikroba tertentu yang tumbuh menyebar di seluruh permukaan media agar
sehingga menghalangi mikroba lain. Hal ini akan mengakibatkan mikroba lain
tersebut tidak terhitung.
4) Penghitungan
dilakukan pada media agar yang jumlah populasi mikrobanya antara 30 – 300
koloni. Bila jumlah populasi kurang dari 30 koloni akan menghasilkan
penghitungan yang kurang teliti secara statistik, namun bila lebih dari 300
koloni akan menghasilkan hal yang sama karena terjadi persaingan diantara
koloni.
5) Penghitungan
populasi mikroba dapat dilakukan setelah masa inkubasi yang umumnya membutuhkan
waktu 24 jam atau lebih (Buckle, 1987).
Kerangka
Operasional:
|
Sampel/Makanan
|
|
Pengenceran
|
|
10-2
|
|
10-1
|
|
10-3
|
|
10-4
|
|
10-5
|
|
10-6
|
|
Plate
|
|
PCA
(Plate Count Agar)
|
|
Didiamkan / inkubasi 48 jam suhu 37oC
|
|
Hitung koloni
|
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
1.
Alat
dan Bahan
a.
Alat
-
Cawan Petri
-
Tabung Reaksi
-
Botol Media
-
Wadah plastic steril
-
Pipet 10 ml
-
Pipet 1 ml
-
Lampu Spritus
-
Inkubator
-
Oven
-
Autoklaf
b.
Bahan
-
Plate Count Agar (PCA)
-
NaCl 0,9 %
-
Sampel Makanan (Kue Cantik Manis)
-
Alkohol 70 %
-
Tissue
2. Cara Kerja
a)
Hari
pertama
Pembuatan media
dan Sterilisasi alat dan bahan
1. Dibuat
media NaCl 0,9 % dan Plate Count Agar dan dimasukkan kedalam autoklaf selama 15
menit
2. Alat
yang akan digunakan seperti cawan petri , pipet 10 ml, dan pipet 1 ml
dimasukkan kedalam oven untuk disterilkan.
b.
Hari
Kedua
Pengambilan sampel
3. Diambil
sampel Kue Cantik Manis dimasukkan ke wadah plastic steril lalu timbang
sebanyak 10 gram
4. Lalu
sampel dihaluskan didalam wadah plastic tadi
Pengenceran dan Penuangan Sampel
pada media
5. Untuk
pengenceran pertama ( 10-1), dipipet larutan NaCl 0,9 % steril
sebanyak 90 ml ke dalam wadah plastic tadi dicampur atau dihomogenkan dengan sampel yang
dihaluskan tadi tunggu sampai zat padatnya mengendap lalu pipet 1 ml
supernathan dengan cara menyedok dan mengeluarkan sebanyak 25 x .
6. Untuk
pengenceran kedua ( 10-2), Dari pengenceran pertama dipipet 1 ml dan
dimasukkan kedalam tabung reaksi (I) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 %
steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan
mengeluarkan sebanyak 25 x .
7. Untuk
pengenceran ketiga ( 10-3), Dari pengenceran kedua dipipet 1 ml dan
dimasukkan kedalam tabung reaksi (II) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 %
steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan
mengeluarkan sebanyak 25 x .
8. Untuk
pengenceran keempat ( 10-3), Dari pengenceran ketiga dipipet 1 ml
dan dimasukkan kedalam tabung reaksi (III) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 %
steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan
mengeluarkan sebanyak 25 x .
9. Untuk
pengenceran kelima ( 10-5), Dari pengenceran keempat dipipet 1 ml
dan dimasukkan kedalam tabung reaksi (IV) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 %
steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan
mengeluarkan sebanyak 25 x .
10. Untuk
pengenceran keenam ( 10-6), Dari pengenceran kelima dipipet 1 ml dan
dimasukkan kedalam tabung reaksi (V) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 %
steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan
mengeluarkan sebanyak 25 x .
11. Masing-msing
pengenceran dipipet sebanyak 1 ml dimasukkan kedalam cawan petri steril.
12. Dipipet
1 ml NaCl 0,9 % yang steril dimasukkan kedalam cawan petri steril sebagai
control.
13. Kemudian
dituangkan media Plate Count Agar kedalam masing-masing cawan petri yang telah
didinginkan pada suhu 45 derajat celcius, sambil cawan petri diputar kedepan,
kebelakang, ke kiri, da kekanan membenntuk angka delapan agar media tercampur
merata dengan sampel.
14. Biarkan
membeku lalu dimasukkan ke dalam incubator pada suhu 35 derajat Celsius selama
24 jam atau 2 x 24 jam dengan posisi
cawan petri terbalik.
c.
Hari
Ketiga
Perhitungan
Angka Lempeng Total (mikroba pada sampel)
15. Dihitung
jumlah koloni yang ada pada cawan petri dan setiap pengencerannya untuk
menentukan nilai ALT
16. Pada
koloni spreader dibagi kedalam 3 bentuk
a. Rantai
koloni tidak terpisah secara jelas disebabkan disintegrasi rumpun bakteri.
b. Terbentuk
lapisan air antara agar dan dasar cawan
c. Terbentuknya
lapisan air pada satu sisi atau permukaan agar. Bila cawan yang disiapkan untuk
sampel lebih banyak ditumbuhi oleh spreader dan total area melebihi 25% dan 50%
pertumbuhannya dilaporkan sebagai cawan spreader. Rerata jumlah koloni dari
setiap pengenceran, kekmudian dilaporkan jumlahnya sebagai ALT. Selain tiga
bentuk spreader, dapat dihitung sebagai satu pertumbuhan kolonni
*untuk tipe a) bila hanya terdapat
satu rantai, hitung tiap sumber itu sebagai satu koloni, termasuk untuk tipe b)
dan tipe c) juga dihitung sebagai koloni. Gabungkan perhitungan koloni dan
perhitungan spreaer untuk menghitung ALT.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.
Hasil
|
Pengenceran pada tabung
|
Gambar Koloni
|
Pengenceran
|
Hasil yang didapatkan
|
|
|
|
10-1
|
517 koloni
|
|
|
|
10-2
|
451 koloni
|
|
|
|
10-3
|
323 koloni
|
|
|
|
10-4
|
211 koloni
|
|
|
|
10-5
|
171 koloni
|
|
|
|
10-6
|
98 koloni
|
Perhitungan
ALT
|
Pengenceran
|
Jumlah Koloni
|
|
10- 1
|
517 Koloni
|
|
10-2
|
451 Koloni
|
|
10-3
|
323 koloni
|
|
10-4
|
211 Koloni
|
|
10-5
|
171 Koloni
|
|
10-6
|
98 Koloni
|
|
Control
|
0 Koloni
|
ALT :
= (211-0) x 10.000 + (171-0) x 100.000 + (98-0) x 1.000.000
3
= 2.110.000 + 17.100.000 + 98.000.000
3
=
117.210.000
3
=
39.070.000 CFU/gram atau 39 x 106 CFU/gram
b.
Pembahasan
:
Berdasarkan
pengamatan dapat diketahui bahwa pada sampel makanan (kue cantik manis) yang
telah diencerkan dengan NaCl 0,9% kemudian diinkubasi hingga 2×24 jam ditemukan sejumlah bakteri.
Pada tingkat pengenceran 10-1, jumlah koloni yang ditemukan adalah 517 koloni.
Pada tingkat pengenceran 10-2 jumlah
koloni yang ditemukan adalah 451 koloni. Pada pengenceran 10-3, jumlah koloni
yang ditemukan adalah 323 koloni. Pada pengenceran 10-4, jumlah koloni yang
ditemukan adalah 211. Pada pengenceran
10-5, jumlah koloni yang ditemukan adalah 171 koloni. Dan pada pengenceran
10-6, jumlah koloni yang ditemukan adalah 98 koloni. Jumlah keseluruhan bakteri
yang ditemukan dari tingkat pengenceran terendah (10-1) hingga tingkat
pengenceran tertinggi (10-6) berjumlah 188 koloni bakteri dan memenuhi batas
berjumlah 1771 koloni.
Dalam
percobaan tentang perhitungan jumlah mikroba digunakan metode total plate count
(TPC). Metode ini merupakan analisis untuk menguji cemaran mikroba dengan
menggunakan metode Pengenceran dan metode cawan tuang. Metode cawan tuang
adalah metode per plate. Metode ini dilakukan dengan mengencerkan sumber
isolate yang telah diketahui beratnya kedalam 9ml larutan garam fisiologis,
larutan yang digunakan sekitar 1ml suspense kedalam cawan petri, dilanjutkan
dengan menuangkankan media penyubur media untuk makanan mikroba.
Sampel
yang digunakan pada percobaan ini dibuat dalam berbagai tingkat pengenceran
yaitu 10-6, dan dengan tujuan memperkecil konsentrasi pengawet yang
digunakan oleh sediaan tersebut dan untuk memudahkan perhitungan jumlah koloni
bakteri dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan hasil dengan perhitungan
menggunakan secara manual, didapatkan hasil yang berbeda-beda dari tiap-tiap
cawan petri dari pengenceran yang berbeda namun, dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi tingkat pengenceran yang dilakukan maka semakin sedikit mikroba
yang tumbuh.
Bakteri
sendiri dapat tumbuh dan berkembang biak seiring dengan waktu. Ini dapat
dilihat dari jumlah koloni di masing-masuing pengenceran pada waktu 24-48 jam.
Kemampuan reproduksi bakteri dengan cara membelah diri dan ditunjang dengan
media penumbuh akan membantu pertumbuhan bakteri
Dilakukan
pengenceran sampai 10-6 berfungsi untuk mengurangi jumlah mikroba.
yang dapat dilihat perbedaan mikroba yang tumbuh atau berkembang dari
pengenceran 10-1 sampai 10-6. Bertujuan untuk memperkecil
jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan sehingga untuk membantu
perhitungan jumlah mikroba. Dalam melakukan percobaan dilakukan beberapa
perlakuan yaitu memanaskan pinggiran cawan petri agar bakteri yang telah di
inginkan tidak tumbuh dan mencegah terjadinya kontaminasi. Dihomogenkan larutan
dengan baik agar larutan tercampur dengan rata. Ditimbang sampel agar sesuai
dengan takaran.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang
dilakukan untuk menentukan Angka Lempeng Total pada sampel makanan (Kue Cantik
Manis) didapatkan hasil perbandingannya dengan standar SNI yaitu 25-250. Dapat
dikatakan bahwa sampel yang digunakan “makanan (Kue Cantik Manis)” sebanyak 39.070.000 CFU/gram atau 39 x 106 CFU/gram
yang artinya masih tetap layak di konsumsi
B. Saran
Saran praktikan yaitu saat
ingin melakukan praktikum serupa adalah sebaiknya memperhatikan kebersihan
tempat kerja terlebih dahulu. Ada baiknya melakukan desinfeksi pada tempat
kerja. Selain tempat kerja, kesiapan praktikan juga harus diperhatikan, seperti
melakukan pengecekan kembali terhadap alat dan bahan yang hendak digunakan
selain itu menggunakan APD yang dianjurkan (Handscoon, Masker serta Jas Lab.)
hal ini untuk mencegah kontaminasi dari sampel ke praktikan ataupun sebaliknya
karena dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Selain itu, alat-alat yang hendak
digunakan dipastikan untuk disterilisasi terlebih dahulu, untuk mencegah kontaminasi
dari alat yang digunakan untuk melakukan percobaan.
Perlunya
memperhatikan penggunaan peralatan media yang steril, seperti pipet,
memakai masker, dan sarung tangan untuk pemeriksaan Hal ini dilakukan untuk
meminimalisir penyebaran infeksi akibat Bakteri.
Perlu dilakukan uji lanjut, yaitu Uji penguat dengan
tujuanmendeteksi adanya bakteri karena pada penelitian ini belum melakukan
uji penguat untuk mengetahui lebih lanjut keberadaan bakteri, karena bias
saja kesalahan terjadi dari cara pemeriksaan sampel
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Akhsan.
2011. Kue Doko Cangkuling. http://ahmadakhsan.blogspot.com/2011/05/alt-makanan.html.
Diakses pada tanggal 28 Februari 2019
Buckle,
K. A. 1987. Ilmu Pangan. Universitas
Indonesia Press: Jakarta
Dwijoseputro, d. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi .Jakarta:
Djambatan.
Fardiaz, S.,
1993.Analisis Mikrobiologi Pangan. Jakarta:Raja Grafindo PersadaJutono, J.
1980.PedomanPraktikum Mikrobiologi Umum.Yogyakarta:Departemen Mikrobiologi
Fakultas Pertanian UGM.Waluyo, L. 2004.Mikrobiologi Umum. Malang:UMM Press
Lesari, Diah.
2014 . Teknik Menghhitung Mikroba ALT dan
MVN.
Thayib, S dan Abu Amar. 1989.Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Pangan.
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Teknologi Indonesia.
Tria Wardhani.2012. Angka Lempeng Total Sampel Makanan. http://triamegumi.blogspot.com/2012/10/angka-lempeng-total-sampel-makanan_30.html.
Diakses pada tanggal 28 Februari 2019
Comments
Post a Comment