Makalah ALT pada sampel makanan


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Makan adalah kebutuhan pokok manusia. Setiap hari kita harus makan supaya kita mempunyai energi untuk beraktivitas. Idelnya menurut teori, manusia perlu makan 3 kali sehari untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Bila sebelumnya makan berarti harus mengkonsumsi nasi, maka seiring dengan perubahan gaya hidup,  manusia tidak hanya mengkonsumsi nasi selama makan. Nasi sebagai sumber karbohidrat yang mensuplai prosentase terbesar untuk energi bisa digantikan dengan sumber karbohidrat yang lain. Seperti kentang, roti gandum, cereal, dll
Upaya pengamanan makanan dan minuman pada dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makakan dan proses pengolahannya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya keracunan makanan, antara lain adalah higienis perorangan yang buruk, cara penanganan makanan yang tidak sehat dan perlengkapan pengolahan makanan yang tidak bersih.
Berbagai mikroba patogen seringkali ditularkan melalui air yang tercemar sehingga menimbulkan penyakit bawaan manusia maupun hewan.Bahan makanan terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Bahan makanan merupakan medium pertumbuhan yang baik bagi berbagai macam mikroorganisme.
Mikroorganisme dapat membusukkan protein, memfermentasikan karbohidrat dan menjadikan lemak dan minyak berbau tengik. Meskipun banyak mikroorganisme tidak berbahaya bagi manusia, beberapa mikroorganisme pencemar dapat mengakibatkan kerusakan, dan yang lain menimbulkan penyakit atau menghasilkan racun yang menyebabkan peracunan makanan.
Oleh karena itu untuk mengetahui bahwa bahan baku dan bahan tambahan tidak mengalami perubahan sifat serta bebas dari kontaminasi mikroba, maka diperlukan uji mikrobiologis, yang meliputi pengujian Angka Lempeng Total bakteri dan uji cemaran bakteri/ kapang.
Analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan pangan penting dilakukan untuk mengetahui mutu bahan pangan dan menghitung proses pengawetan yang akan diterapkan pada bahan pangan tersebut. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menghitung atau mengukur jumlah jasad renik dalam suatu suspensi, salah satunya adalah pemeriksaan adanya bakteri Coliform pada makanan dan minuman dengan metode MPN


B.  Maksud dan Tujuan
            1.       Maksud
Melakukan teknik pengenceran dan teknik perhitungan dengan metode TPC (Total Plate Count) atau ALT (Angka Lempeng Total).
            2.      Tujuan
a)      Agar dapat mengetahui tingkat kontaminasi makanan yang telah diolah dan siap untuk dikonsumsi atau disantap;
b)      Mengetahui populasi kuman atau jumlah bakteri dalam suatu bahan, misalnya air, makanan dan minuman;
c)      Untuk mengetahui teknik dilution (pengenceran).
d)     Untuk mengetahui teknik perhitungan dengan metode TPC (Total Plate Count) atau ALT (Angka Lempeng Total).

C.    Waktu dan Pelaksanaan
Selasa, 25 Februari 2019 dilakukan Sterilisasi
Rabu, 26 Februari 2019 dilakukan dengan metode uang
Jumat, 27 Februari 2019 menghitung Koloni

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Total account  yaitu  kalau perhitungan jumlah tidak berdasarkan pada jenis bakteri, tetapi secara kasar terhadap golongan atau kelompok besar mikrooranisme umum seperti bakteri, fungi mikroalge ataupun terhadap kelompok bakteri tertentu. Total count bacteria misalnya ditentukanberdasarkan  penamaan bahan dalam jumlah dan pengenceran tertentu kedalam media umum untuk bacteria. Setelah melalui masa inkubasi pada temperature kamar selama waktu maksimal 4 × 24 jam, perhitungan koloni dilakukan. Dianggap bahwa tiap koloni berasal dari sebuah sel, maka jumlah koloni dapat diperhitungkan sebaga jumlah sel mewakili dan terdapat didalam bahan yang dianalisis. Juga terdapat total count fungi dilakukan metoda yang sama, kecuali temperature inkubasi 28 1˚C. didalam pelaksaan agar selam pertumbuhan tidak diganggu oleh koloni bakteri maka kepada permukaan media sebeumya diberi bahan yang akan dianalisis, ditambah terlebih dahulu larutan asam laktat 3%.
Terhadap microalgae, media yang digunakan harus bersifat semi solid atau cair, yaitu dengan penambahan tepung agar 50% dari yang diperlukan. Karena kalau penggunaan tepung agar sesuai dengan bacteria ataupun fungi, pertumbuhan mikroalge akan terlambat atau terhambat sama sekali. Berbeda dengan biakan bacteri ataupun fungi, maka biakan mikroalge harus ditempatkan pada tempat yang terang atau dikenai cahaya matahari, selama 5-15 hari. Jenis media yang digunakan untuk perhitungan total account kelompok lain pada dasarnya berbentuk media selektiff atau pengaya. Karena sifat selektif dari media, pada akhirnya kalaupun ada bacteria yang tidak diharapkan dapat tumbuh dan berkembang didalamnya, selain memerlukan waktu yang cukup lama (diatas 10 × 24 jam) juga koloni yang terbentuk tetapi tidak dapat membesar dan mudah hilang dari pengamatan dengan mengunakan mata biasa.
Total count terhadap bakteri pathogen, khususya untuk penyebab sakit perut, seperti tifus, paratifus, kolera disentri, dan sebagainya yang disebabkan oleh salmonella, shigela  dan vibrio, juga memerlukan media pengaya dan media selektif. Total count terhadap bacteri penghasil racun, khususnya yang menyebar melalui air dan mengenai bahan makanan dan disebabkan oleh bacteri aerobic (pseudomonas, Staphylococus) dan aerob (Costridium) serta total count dan identifikasi jenis-jenis fungi penghasil mikotoksin khususnya yang termasuk kelompok Aspergillus, penicililium, dan fusarium, juga sama seperti untuk golongan phatogen.
Prinsip metode ALT ini adalah apabila ada satu sel mikroorganisme yang masih hidup ditumbuhkan pada medium yang sesuai, maka sel tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata pada media yang digunakan dan setelah dilakukan inkubasi pada suhu dan waktu tertentu.
a.       Pengenceran
Bahan yang diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel mikroba per mil per gram atau per cm, memerlukkan perlakuan pengenceran sebelum ditumbuhkan pada medium agar didalam cawan petri, sehingga setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaik adalah diantara 30 dan 300. 
Pengambilan contoh dilakukan secara aseptis dan pada setiap pengenceran dilakukann pengocokan kira-kira sebanyak 25 kali untuk memisahkan sel-sel mikroba yang bergabung menjadi satu. Pengenceran secara desimal memudahkan dalam perhitungan jumlah koloni, sedangkan pengenceran yang bukan secara decimal, misalnya 1 : 5, 1 : 25, dan seterusnya jarang dilakukan karena tidak praktis dalam perhituntannya. Untuk mengetahua jumlah mikroba pada permukaan luar bahan, contohnya dapat dilakukan dengan metode sebar.
Koloni yang dipilih untuk dihitung menggunakan cara metode hitungan cawan memiliki syarat khusus berdasarkan statistik untuk memperkecil kesalahan dalam perhitungan. Perhitungan mengacu kepada standar atau peraturan yang telah ditentukan. Syarat-syaratnya sebagai berikut :
1.      Pilih cawan yang ditumbuhi koloni dengan jumlah 30-300 koloni. > 300 = TNTC (Too Numerous To Count) atau TBUD (Terlalu Banyak Untuk Dihitung). < 30 = TFTC (Too Few To Count).
2.      Jumlah koloni yang dilaporkan terdiri dari 2 digit yaitu angka satuan dan angka sepersepuluh yang dikalikan dengan kelipatan 10 (eksponensial)
3.      Bila diperoleh perhitungan < 30 dari semua pengenceran, maka hanya dari pengenceran terendah yang dilaporkan.
4.      Bila diperoleh perhitungan > 300 dari semua pengenceran, maka laporannya adalah 300 dikali 1/ faktor pengenceran dengan menuliskan hasil yang sebenarnya dalam tanda kurung. (hasil yang sebenarnya diperoleh dari pengenceran tertinggi). berurutan dengan jumlah koloni 30-300 dan hasil bagi dari jumlah koloni pengenceran tertinggi dan terendah ≤ 2, maka jumlah yang dilaporkan adalah nilai rata-rata. Jika hasil bagi dari pengenceran tertinggi dan terendah > 2 maka jumlah yang dilaporkan adalah dari cawan dengan pengenceran terendah.
Sebagai salah satu metode perhitungan metode hitungan cawan ini memiliki kelebihan dan kekurangan (Fardiaz,1992).
Ø  Kelebihan dari metode hitungan cawan:
a.       masih hidup yang hidup yang dihitung
b.      Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung sekaligus
c.       Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi jasad renik karena koloni yang terbentuk mungkin berasal sari suatu jasad renik yang memiliki penamapakan pertumbuhan spesifik.

Ø  Kekurangannya, yaitu:
a.       Hasil hitungannya tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya, karenabeberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni.
b.      Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda.
c.       Jasad renik yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan  membentuk koloni yang kompak dan jelas, tidak menyebar.


 Untuk menentukan jumlah bacteri dapat di lakukun beberapa cara:
1.  Penghitungan jumlah bacteri secara keseluruhan
a.       Menghitung langsung secara mikroskopis
Pada cara ini dihitung jumlah bacteri dalam satuan isi yang sangat kecil.untuk ini digunakan kaca objek khusus yang bergaris berbentuk bujur sangkar.jumlah cairan yang terdapat antara kaca objek dan kaca penutup mempunyai volume tertentu,sehingga satuan isi yang terdapat dalam satu bujur sangkar juga tertentu.
b.      Menghitung dengan cara kekeruhan
Cara ini mengggunakan spektofotometer atau nefelometer.Dasar teknik ini adalah banyaknya cahaya yang diabsorpsi sebanding dengan banyaknya bacteri pada batas tertentu.
2.      Menghitung jumlah bacteri dengan metode kerapatan optik
Jumlah mikroorganisme dalam suspense dapaat ditentukan dengan kerapatan optic (OD = OPTIKAL DENSITY). Pengukuran kerapatan optic menggunakan kolorimeter yang membiaskan cahaya dengan gelombang tertentu.Gelombang cahaya melewati suspensi biakan dan banyaknya yang di transmisikan setelah melewati suspensi di ukur jumlah cahaya yang ditransmisikan setelah melewati suspensi biakan berbanding terbalik dengan jumlah mikroorganisme dan jumlah cahaya yang diabsorpsi. Jumlah cahaya yang diabsorpsi tergantung pada bentuk dan besar sel. Spektropotometer dapat mengukur kepekatan sel dalam suspense dalam % T (transmittance) atau OD (jumlah cahaya yang diabsorpsi dan disebarkan). Dalam mikrobiologi digunakan OD sebagai satuan hitungan, karena OD sebanding dengan kepekatan sel dalam suspense biakan.
Uji Angka Lempeng Total
a.    Definisi Angka Lempeng Total
     Angka lempeng total adalah angka yang menunjukkan jumlah bakteri mesofil dalam tiap-tiap 1 ml atau 1 gram sampel makanan yang diperiksa. Prinsip dari ALT adalah menghitung pertumbuhan koloni bakteri aerob mesofil setelah sampel makanan ditanam pada lempeng media yang sesuai dengan cara tuang kemudian dieramkan selama 24-48 jam pada suhu 35-37°C (Joko Wibowo Ristanto, 1989).
Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba yang ada pada suatu sampel, umumnya dikenal dengan Angka Lempeng Total (ALT). Uji Angka Lempeng Total (ALT) dan lebih tepatnya ALT aerob mesofil atau anaerob mesofil menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa koloni yang dapat diamati secara visual berupa angka dalam koloni(cfu) per ml/g atau koloni/100ml. Cara yang digunakan antara lain dengan cara tuang, cara tetes dan cara sebar (BPOM, 2008).
Standar plate Count (Angka Lempeng Total) adalah menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel. Dalam test tersebut diketehui perkembangan banyaknya bakteri dengan mengatur sampel, di mana total bakteri tergantung atas formasi bakteri di dalam media tempat tumbuhnya dan masing-masing bakteri yang dihasilkan akan membentuk koloni yang tunggal (Djide M).
Standart Plate Counts (SPC) adalah cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30-300, beberapa koloni yang  bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar yang jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni, dan satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni (Waluyo 2007).
Plate count agar   (PCA) adalah mikrobiologi medium pertumbuhan umum digunakan untuk menilai atau memonitor "total" atau layak pertumbuhan bakteri dari sampel. PCA adalah bukan media selektif. Komposisi agar-agar pelat menghitung dapat bervariasi, tetapi biasanya mengandung (b/v) yaitu 0,5% pepton, 0,25% ekstrak ragi, 0,1% glukosa,  1,5% agar-agar, dan pH disesuaikan (Atlas 2004).

b.    Teknik Perhitungan Angka Lempeng
Uji angka lempeng total dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu teknik cawan tuang (pour plate) dan teknik sebaran (spread plate). Pada prinsipnya dilakukan pengenceran terhadap sediaan yang diperiksa kemudian dilakukan penanaman pada media lempeng agar. Jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada lempeng agar dihitung setelah inkubasi pada suhu dan waktu yang sesuai. Perhitungan dilakukan terhadap petri dengan jumlah koloni bakteri antara 30-300. Angka lempeng total dinyatakan sebagai jumlah koloni bakteri hasil perhitungan dikalikan faktor pengenceran.
     Jika sel jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan berkembang biak membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dapat dihitung dengan menggunakan mata tanpa mikroskop. Metoda hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitive untuk menentukan jumlah jaasad renik karena beberapa hal yaitu :
1)      Hanya sel yang masih hidup yang dapat dihitung.
2)      Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung satu kali.
3)      Dapat digunakan untuk isolasi dan identitas jasad renik karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari jasad renik yang menetap menampakkan pertumbuhan yang spesifik.
Mencari tahu standar/ batas ambang/ jumlah maksimum aman jika sample yang dianalisa memerlukan referensi tersebut. Berbagai macam uji mokrobiologis dapat dilakukan terhadap bahan pangan, meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan daya tahan suatu makanan, uji kualitatif bakteri patogen untuk menenetukan tingkat keamanan dan uji indikator untuk menentukan tingkat sanitasi makanan tersebut. Pengujian yang dilakukan terhadap tiap  bahan pangan tidak sama tergantung berbagai faktor, seperti jenis dan komposisi bahan  pangan, cara pengepakan dan penyimpanan serta komsumsinya, kelompok konsumen dan berbagai faktor lainnya (Djide, 2003)



c.    Persyaratan Perhitungan Angka Lempeng Total
     Adanya jumlah angka lempeng total yang ditemukan pada suatu sampel dapat dijadikan acuan bahwa sampel tersebut masih layak untuk dikonsumsi atau tidak. Adapun untuk batas persyaratan perhitungan dari angka lempeng total adalah :
1)  Mikroba yang dapat dihitung 30-300 koloni
2)  <30 koloni, dianggap cemaran
3) >300 koloni, spreader atau tak terhingga sehingga tak dapat dihitung
4) Jumlah bakteri adalah jumlah koloni x factor pengenceran
5) Perbandingan jumlah bakteri dari pengenceran berturut-turut antara pengenceran yang akhir dengan pengenceran yang sebelumnya
6) Jika sama atau kurang dari 2 maka hasilnya dirata-rata. Jika lebih dari 2 digunakan pengenceran sebelumnya.

d.   Keuntungan Dan Kelemahan dari ALT
                        Keuntungan dari metode pertumbuhan agar atau metode uji Angka Lempeng Total adalah dapat mengetahui jumlah mikroba yang dominan. Keuntungan lainnya dapat diketahui adanya mikroba jenis lain yang terdapat dalam contoh.
     Adapun kelemahan dari metode ini adalah :
1)      Kemungkinan terjadinya koloni yang berasal lebih dari satu sel mikroba, seperti pada mikroba yang berpasangan, rantai atau kelompok sel.
2)      Kemungkinan ini akan memperkecil jumlah sel mikroba yang sebenarnya. Kemungkinan adanya jenis mikroba yang tidak dapat tumbuh karena penggunaan jenis media agar, suhu, pH, atau kandungan oksigen selama masa inkubasi.
3)      Kemungkinan ada jenis mikroba tertentu yang tumbuh menyebar di seluruh permukaan media agar sehingga menghalangi mikroba lain. Hal ini akan mengakibatkan mikroba lain tersebut tidak terhitung.
4)      Penghitungan dilakukan pada media agar yang jumlah populasi mikrobanya antara 30 – 300 koloni. Bila jumlah populasi kurang dari 30 koloni akan menghasilkan penghitungan yang kurang teliti secara statistik, namun bila lebih dari 300 koloni akan menghasilkan hal yang sama karena terjadi persaingan diantara koloni.
5)      Penghitungan populasi mikroba dapat dilakukan setelah masa inkubasi yang umumnya membutuhkan waktu 24 jam atau lebih (Buckle, 1987).














Kerangka Operasional:
Sampel/Makanan
 

Pengenceran
10-2
10-1
10-3
10-4
10-5
10-6
Plate
PCA
(Plate Count Agar)
Didiamkan / inkubasi 48 jam suhu 37oC
Hitung koloni
 
















BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
1.          Alat dan Bahan
a.         Alat
-          Cawan Petri
-          Tabung Reaksi
-          Botol Media
-          Wadah plastic steril
-          Pipet 10 ml
-          Pipet 1 ml
-          Lampu Spritus
-          Inkubator
-          Oven
-          Autoklaf
b.         Bahan
-          Plate Count Agar (PCA)
-          NaCl 0,9 %
-          Sampel Makanan (Kue Cantik Manis)
-          Alkohol 70 %
-          Tissue







2.     Cara Kerja
a)      Hari pertama
Pembuatan media dan Sterilisasi alat dan bahan
1.      Dibuat media NaCl 0,9 % dan Plate Count Agar dan dimasukkan kedalam autoklaf selama 15 menit
2.      Alat yang akan digunakan seperti cawan petri , pipet 10 ml, dan pipet 1 ml dimasukkan kedalam oven untuk disterilkan.

b.      Hari Kedua
Pengambilan sampel
3.      Diambil sampel Kue Cantik Manis dimasukkan ke wadah plastic steril lalu timbang sebanyak 10 gram
4.      Lalu sampel dihaluskan didalam wadah plastic tadi
Pengenceran dan Penuangan Sampel pada media
5.      Untuk pengenceran pertama ( 10-1), dipipet larutan NaCl 0,9 % steril sebanyak 90 ml ke dalam wadah plastic tadi  dicampur atau dihomogenkan dengan sampel yang dihaluskan tadi tunggu sampai zat padatnya mengendap lalu pipet 1 ml supernathan dengan cara menyedok dan mengeluarkan sebanyak 25 x .
6.      Untuk pengenceran kedua ( 10-2), Dari pengenceran pertama dipipet 1 ml dan dimasukkan kedalam tabung reaksi (I) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 % steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan mengeluarkan sebanyak 25 x .
7.      Untuk pengenceran ketiga ( 10-3), Dari pengenceran kedua dipipet 1 ml dan dimasukkan kedalam tabung reaksi (II) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 % steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan mengeluarkan sebanyak 25 x .
8.      Untuk pengenceran keempat ( 10-3), Dari pengenceran ketiga dipipet 1 ml dan dimasukkan kedalam tabung reaksi (III) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 % steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan mengeluarkan sebanyak 25 x .
9.      Untuk pengenceran kelima ( 10-5), Dari pengenceran keempat dipipet 1 ml dan dimasukkan kedalam tabung reaksi (IV) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 % steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan mengeluarkan sebanyak 25 x .
10.  Untuk pengenceran keenam ( 10-6), Dari pengenceran kelima dipipet 1 ml dan dimasukkan kedalam tabung reaksi (V) yang telah berisi larutan NaCl 0,9 % steril sebanyak 9 ml, dicampur atau dihomogenkan dengan cara menyedk dan mengeluarkan sebanyak 25 x .
11.  Masing-msing pengenceran dipipet sebanyak 1 ml dimasukkan kedalam cawan petri steril.
12.  Dipipet 1 ml NaCl 0,9 % yang steril dimasukkan kedalam cawan petri steril sebagai control.
13.  Kemudian dituangkan media Plate Count Agar kedalam masing-masing cawan petri yang telah didinginkan pada suhu 45 derajat celcius, sambil cawan petri diputar kedepan, kebelakang, ke kiri, da kekanan membenntuk angka delapan agar media tercampur merata dengan sampel.
14.  Biarkan membeku lalu dimasukkan ke dalam incubator pada suhu 35 derajat Celsius selama 24 jam atau 2 x 24 jam dengan posisi  cawan petri terbalik.
c.       Hari Ketiga
Perhitungan Angka Lempeng Total (mikroba pada sampel)
15.  Dihitung jumlah koloni yang ada pada cawan petri dan setiap pengencerannya untuk menentukan nilai ALT
16.  Pada koloni spreader dibagi kedalam 3 bentuk
a.     Rantai koloni tidak terpisah secara jelas disebabkan disintegrasi rumpun bakteri.
b.    Terbentuk lapisan air antara agar dan dasar cawan
c.     Terbentuknya lapisan air pada satu sisi atau permukaan agar. Bila cawan yang disiapkan untuk sampel lebih banyak ditumbuhi oleh spreader dan total area melebihi 25% dan 50% pertumbuhannya dilaporkan sebagai cawan spreader. Rerata jumlah koloni dari setiap pengenceran, kekmudian dilaporkan jumlahnya sebagai ALT. Selain tiga bentuk spreader, dapat dihitung sebagai satu pertumbuhan kolonni
*untuk tipe a) bila hanya terdapat satu rantai, hitung tiap sumber itu sebagai satu koloni, termasuk untuk tipe b) dan tipe c) juga dihitung sebagai koloni. Gabungkan perhitungan koloni dan perhitungan spreaer untuk menghitung ALT.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.      Hasil

Pengenceran pada tabung
Gambar Koloni
Pengenceran

Hasil yang didapatkan



10-1

517 koloni



10-2
451 koloni



10-3
323 koloni



10-4
211 koloni


10-5
171 koloni



10-6
98 koloni

Perhitungan ALT

Pengenceran
Jumlah Koloni
10- 1
517  Koloni
10-2
451  Koloni
10-3
323  koloni
10-4
211 Koloni
10-5
171 Koloni
10-6
98 Koloni
Control
0 Koloni

ALT :  
= (211-0) x 10.000 + (171-0) x 100.000 + (98-0) x 1.000.000
                                                3
= 2.110.000 + 17.100.000 + 98.000.000
                                       3
= 117.210.000
           3
= 39.070.000  CFU/gram atau 39 x 106 CFU/gram

b.      Pembahasan :
Berdasarkan pengamatan dapat diketahui bahwa pada sampel makanan (kue cantik manis) yang telah diencerkan dengan NaCl 0,9% kemudian diinkubasi  hingga 2×24 jam ditemukan sejumlah bakteri. Pada tingkat pengenceran 10-1, jumlah koloni yang ditemukan adalah 517 koloni. Pada tingkat pengenceran 10-2  jumlah koloni yang ditemukan adalah 451 koloni. Pada pengenceran 10-3, jumlah koloni yang ditemukan adalah 323 koloni. Pada pengenceran 10-4, jumlah koloni yang ditemukan adalah  211. Pada pengenceran 10-5, jumlah koloni yang ditemukan adalah 171 koloni. Dan pada pengenceran 10-6, jumlah koloni yang ditemukan adalah 98 koloni. Jumlah keseluruhan bakteri yang ditemukan dari tingkat pengenceran terendah (10-1) hingga tingkat pengenceran tertinggi (10-6) berjumlah 188 koloni bakteri dan memenuhi batas berjumlah 1771 koloni.
Dalam percobaan tentang perhitungan jumlah mikroba digunakan metode total plate count (TPC). Metode ini merupakan analisis untuk menguji cemaran mikroba dengan menggunakan metode Pengenceran dan metode cawan tuang. Metode cawan tuang adalah metode per plate. Metode ini dilakukan dengan mengencerkan sumber isolate yang telah diketahui beratnya kedalam 9ml larutan garam fisiologis, larutan yang digunakan sekitar 1ml suspense kedalam cawan petri, dilanjutkan dengan menuangkankan media penyubur media untuk makanan mikroba.
Sampel yang digunakan pada percobaan ini dibuat dalam berbagai tingkat pengenceran yaitu 10-6, dan dengan tujuan memperkecil konsentrasi pengawet yang digunakan oleh sediaan tersebut dan untuk memudahkan perhitungan jumlah koloni bakteri dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan hasil dengan perhitungan menggunakan secara manual, didapatkan hasil yang berbeda-beda dari tiap-tiap cawan petri dari pengenceran yang berbeda namun, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengenceran yang dilakukan maka semakin sedikit mikroba yang tumbuh.
Bakteri sendiri dapat tumbuh dan berkembang biak seiring dengan waktu. Ini dapat dilihat dari jumlah koloni di masing-masuing pengenceran pada waktu 24-48 jam. Kemampuan reproduksi bakteri dengan cara membelah diri dan ditunjang dengan media penumbuh akan membantu pertumbuhan bakteri
Dilakukan pengenceran sampai 10-6 berfungsi untuk mengurangi jumlah mikroba. yang dapat dilihat perbedaan mikroba yang tumbuh atau berkembang dari pengenceran 10-1 sampai 10-6. Bertujuan untuk memperkecil jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan sehingga untuk membantu perhitungan jumlah mikroba. Dalam melakukan percobaan dilakukan beberapa perlakuan yaitu memanaskan pinggiran cawan petri agar bakteri yang telah di inginkan tidak tumbuh dan mencegah terjadinya kontaminasi. Dihomogenkan larutan dengan baik agar larutan tercampur dengan rata. Ditimbang sampel agar sesuai dengan takaran.























BAB V
PENUTUP
A.  Kesimpulan
   Dari hasil percobaan yang dilakukan untuk menentukan Angka Lempeng Total pada sampel makanan (Kue Cantik Manis) didapatkan hasil perbandingannya dengan standar SNI yaitu 25-250. Dapat dikatakan bahwa sampel yang digunakan “makanan (Kue Cantik Manis)” sebanyak 39.070.000  CFU/gram atau 39 x 106 CFU/gram yang artinya masih tetap layak di konsumsi
B.     Saran
Saran praktikan yaitu saat ingin melakukan praktikum serupa adalah sebaiknya memperhatikan kebersihan tempat kerja terlebih dahulu. Ada baiknya melakukan desinfeksi pada tempat kerja. Selain tempat kerja, kesiapan praktikan juga harus diperhatikan, seperti melakukan pengecekan kembali terhadap alat dan bahan yang hendak digunakan selain itu menggunakan APD yang dianjurkan (Handscoon, Masker serta Jas Lab.) hal ini untuk mencegah kontaminasi dari sampel ke praktikan ataupun sebaliknya karena dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Selain itu, alat-alat yang hendak digunakan dipastikan untuk disterilisasi terlebih dahulu, untuk mencegah kontaminasi dari alat yang digunakan untuk melakukan percobaan.
Perlunya memperhatikan penggunaan peralatan media yang steril, seperti pipet, memakai masker, dan sarung tangan untuk pemeriksaan Hal ini dilakukan untuk meminimalisir penyebaran infeksi akibat Bakteri.

Perlu dilakukan uji lanjut, yaitu Uji penguat dengan tujuanmendeteksi adanya bakteri karena pada penelitian ini belum melakukan uji penguat untuk mengetahui lebih lanjut keberadaan bakteri, karena bias saja kesalahan terjadi dari cara pemeriksaan sampel



DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Akhsan. 2011. Kue Doko Cangkuling. http://ahmadakhsan.blogspot.com/2011/05/alt-makanan.html.  Diakses pada tanggal 28 Februari 2019
Buckle, K. A. 1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia Press: Jakarta
Dwijoseputro, d. 1994.  Dasar-Dasar Mikrobiologi .Jakarta: Djambatan.

Fardiaz, S., 1993.Analisis Mikrobiologi Pangan. Jakarta:Raja Grafindo PersadaJutono, J. 1980.PedomanPraktikum Mikrobiologi Umum.Yogyakarta:Departemen Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM.Waluyo, L. 2004.Mikrobiologi Umum. Malang:UMM Press
Lesari, Diah. 2014 . Teknik Menghhitung Mikroba ALT dan MVN.

Thayib, S dan Abu Amar. 1989.Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Pangan. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Teknologi Indonesia.

Tria Wardhani.2012. Angka Lempeng Total Sampel Makanan. http://triamegumi.blogspot.com/2012/10/angka-lempeng-total-sampel-makanan_30.html. Diakses pada tanggal 28 Februari 2019

Comments

Popular posts from this blog

MSS ( Magic Spray Soltion) Pengawet Ikan tanpa Bahan Kimia

Apa itu Analis Kesehatan? sama ngak dengan Perawat?